Rabu, 07 November 2012

Mengelola obat psikotropika


Psikotropika menurut UU No.5 tahun 1997 adalah  zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat, psikoaktif melalui pengaruh selektif menurut susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku . 
psikotropikaPsikotropika digolongkan sebagai berikut:

  • Golongan I  adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak dapat digunakan dalam terapi, serta memiliki potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan, mencakup 26 zat, antara lain lisergida (LSD), meskalin, dan psilosibina.
  • Golongan II  adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan yang dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan mencakup 14 zat, antara lain: amfetamin, deksamfetamin, revonal, ritalin, dan sekobarbital.
  • Golongan III  adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan, mencakup 9 zat, antara lain: amylobarbital, glutetimida dan pentazosina.
  • Golongan IV  misalnya: amfepramona, barbital, fenobarbital, metakualon, dan lain-lain.
Pengelolaan obat psikotropika
Secara garis besar pengelolaan psikotropika antara lain meliputi:
1. Pemesanan psikotropika
Obat-obat psikotropika dapat dipesan apotek dari pedagang besar farmasi (PBF) dengan menggunakan surat pemesanan (SP) yang diperoleh dari PBF PT. Kimia Farma dan ditandatangani oleh APA (saat dilakukan pemesanan).
2. Penyimpanan psikotropika
Sampai saat ini penyimpanan untuk obat-obat psikotropika belum diatur dengan suatu perundang-undangan. Namun karena obat-obat psikotropika ini cenderung untuk disalahgunakan maka disarankan agar menyimpan obat-obatan tersebut dalam suatu rak atau lemari khusus dan membuat kartu stok psikotropika.
3. Pelaporan psikotropika
Apotek wajib membuat dan meminta catatan kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika dan melaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berkala sesuai dengan UU No.5 tahun 1997 pasal 33 ayat (1) dan pasal 34 tentang psikotropika.
4. Pemusnahan psikotropika
Menurut pasal 53 UU No.5 tahun 1997 tentang psikotropika, pemusnahan psikotropika dilakukan apabila:
  • Kadaluarsa.
  • Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan.
  • Terkait dengan tindak pidana.
Sehubungan dengan pemusnahan psikotropika, apoteker wajib membuat Berita Acara dan disaksikan oleh pejabat yang ditunjuk dalam 7 hari setelah mendapat kepastian.

Selasa, 04 September 2012

Fakta Tentang Pil Diet


Jakarta, Banyak orang yang tergiur dengan pil diet atau suplemen-suplemen penurun berat badan. Tak peduli aman atau tidak, jika tampilan dan iklannya cukup meyakinkan, langsung saja beli. Tapi tahukah Anda bahwa tidak ada satu pil diet pun yang benar-benar efektif?

Seperti dikutip dariBettyconfidential, Rabu (9/12/2009), ada 5 bahan aktif yang biasanya ada dalam pil atau suplemen diet. Meski belum mendapat izin dari Food and Drug Administration (FDA) tapi banyak produsen yang nekat menjualnya. Waspadalah dan jangan langsung percaya dengan khasiat semu 5 zat berikut ini.

1. Hoodia

Diproduksi dari tanaman Afrika yang biasanya digunakan sebagai bahan alami pembuka hidangan maupun penutup. Penduduk di Kalahari biasa mengonsumsinya saat melakukan perjalanan panjang dan beberapa studi membuktikan bahwa hoodia bisa mengurangi berat badan dari tikus percobaan. Namun belum ada penelitiannya pada manusia. Hoodia banyak digunakan di suplemen-suplemen tapi belum ada aturan dosisnya.

2. Ekstrak teh hijau
Kandungan zat kimia katekin dalam teh hijau sedikit banyak mempengaruhi metabolisme tubuh, terutama bagi mereka yang ingin kurus. Sebuah data menyebutkan, konsumsi teh hijau sebanyak 3-5 cangkir sehari bisa menurunkan berat badan. Namun studi yang menunjukkan efek penggunaan pil dengan kandungan ekstrak teh hijau ini masih sangat sedikit dan tidak bisa langsung disimpulkan. "Anda tidak bisa langsung menyebut pil itu bagus atau tidak, sampai ada studi skala besar yang membuktikannya," ujar Brent Bauer, MD, direktur Mayo Clinic’s Complementary and Integrative Medicine Program.

3. Bitter Orange
Kandungan ekstrak yang berasal dari citrus aurantium ini mengandung sejenis alkaloid yang mirip dengan ephedra, yaitu suplemen diet yang dilarang oleh FDA pada tahun 2004. Seperti ephedra, bitter orange (jeruk pahit) ini bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan detak jantung yang tidak normal. Jadi sebaiknya dihindari bagi mereka yang punya penyait jantung.

4. Hydroxycitric Acid (HCA)
Bahan ini diambil dari pepohonan di kawasan Asia Tenggara dan banyak digunakan sebagai penekan nafsu makan. Namun seperti hoodia, HCA baru diuji cobakan pada tikus, belum pada manusia. Jadi tidak ada jaminan bahan ini benar-benar bisa membuat tubuh kurus atau langsing.

5. Guar Gum
Terbuat dari tanaman guar, biasa dijual dalam bentuk tepung dan digunakan untuk membuat kue. Struktur kimia alami yang terdapat dalam bahan ini bisa menciptakan perasaan kenyang dan menurunkan selera makan. Menurut data dari Mayo Clinic, bahan ini belum terbukti menurunkan berat badan bahkan cenderung menimbuilkan diare, perut kembung atau gangguan pencernaan jika tidak diimbangi dengan air yang cukup.

Yang harus ditanamkan di pikiran adalah tidak ada satu pil atau suplemen apapun yang bisa menggantikan kedudukan olahraga dan mengatur kalori yang masuk dan keluar untuk bisa menurunkan berat badan. Daripada buang-buang uang untuk membeli pil diet dan suplemen semacamnya, mulailah dengan rutin berjalan kaki sejam setiap harinya.

Kamis, 14 Juni 2012

Penyebab dan Solusi Nyeri Menstruasi

Penyebab dan Solusi Nyeri Menstruasi

detail beritaHalo semuanya,, kali ini PIO akan membahas mengenai nyeri saat menstruasi. Nah, hampir setiap wanita pasti pernah mengalami nyeri saat menjelang menstruasi ataupun saat menstruasi. Apa sih penyebab nya? Dan bagaimana kita mengatasinya? Karena pasti tidak nyaman dong kalau rasa nyeri ini sampai mengganggu aktivitas sehari-hari kita, selain itu kapan sih saat kita harus berkonsultasi dengan dokter karena nyeri saat menstruasi mulai dirasa “mengganggu ?” Okeyy, Mari kita kupas lebih lanjut..

Banyak wanita usia subur yang secara rutin mengalami nyeri menstruasi. Nyeri yang terkait dengan kram itu bertahan di hari-hari menjelang atau awal menstruasi. Nyeri terasa di perut bagian bawah atau tengah dan mungkin memancar sampai ke pinggul, paha, dan punggung. Intensitas nyeri naik dan turun berulang-ulang, mengikuti kontraksi otot rahim yang mendasarinya. Tingkat keparahan nyeri bervariasi antar-wanita dan antar-haid pada wanita yang sama. Pada suatu saat, nyeri mungkin hampir tidak terasa. Di saat lain, nyeri bisa sangat hebat disertai kejang, lemas, demam, pusing dan berbagai gangguan lambung seperti mual, muntah, dan diare.

Apakah normal?

Nyeri menstruasi atau dalam bahasa medisnya disebut dismenore pada umumnya adalah hal normal. Zat yang disebut prostaglandin adalah penyebab utamanya. Zat ini diproduksi oleh tubuh dan ditemukan dalam lapisan rahim. Ketika proses menstruasi dimulai, zat ini merangsang kontraksi untuk melepaskan lapisan rahim, sehingga menyebabkan kram. Zat ini juga menyebabkan vasodilatasi sistem peredaran darah. Pembuluh arteri dan vena mengembang, sehingga darah haid lebih mudah dikeluarkan. Namun, hal ini juga dapat menyebabkan tekanan darah menurun sehingga tubuh akan terasa lemas dan kepala pusing. Pada beberapa wanita, prostaglandin juga memicu kontraksi dan spasme otot polos di saluran gastro-intestinal, sehingga menimbulkan mual, muntah dan diare. Selain itu, aliran darah haid juga dapat ikut memperburuk rasa nyeri. Gumpalan darah atau aliran darah menstruasi yang deras harus melalui bukaan sempit leher rahim. Peregangan leher rahim oleh aliran tersebut dapat menyebabkan rasa sakit. Itulah mengapa nyeri haid berkurang atau menghilang pada beberapa wanita setelah melahirkan bayi pertama mereka. Bukaan serviks mereka telah melebar. 
Nyeri haid terutama dirasakan oleh remaja putri di tahun awal menstruasi, wanita yang beriwayat mendapatkan menstruasi pertama lebih awal (kurang dari 12 tahun) dan wanita yang mengeluarkan darah haid lebih banyak.Pada kasus yang lebih jarang, nyeri menstruasi disebabkan oleh kondisi atau penyakit, misalnya endometriosis, penyakit menular seksual, kista ovarium atau masalah spiral (IUD). 
Jika Anda mulai merasakan nyeri menstruasi setelah berusia 25 tahun atau bila rasa nyeri disertai gejala lain seperti perdarahan haid yang tidak kunjung berhenti atau berbau busuk, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter.

Tips

Beberapa tips berikut dapat meringankan nyeri menstruasi:

Solusi non obat:

·         Tempelkan bantal pemanas ke perut bagian bawah (di bawah pusar). Bila Anda tidak memiliki bantal pemanas, Anda dapat memasukkan air panas ke dalam botol dan membungkus botol tersebut dengan kain sebelum menempelkan ke perut Anda.
·         Tempatkan kaki Anda lebih tinggi dari jantung dan perut saat Anda berbaring, atau berbaringlah miring dengan lutut menekuk.
·         Pijatlah perut bagian bawah dengan pijatan melingkar yang ringan.
·         Minumlah minuman yang hangat.
·         Bila Anda merasa mual sehingga selera makan Anda terganggu, sebar waktu makan Anda. Anda juga dapat mengganti makan besar dengan makanan ringan yang lebih sering.
·         Pilihlah diet kaya karbohidrat kompleks seperti biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran yang rendah garam, gula, dan tanpa kafein.
·         Perbanyak asupan vitamin B6, kalsium dan magnesium.
·         Mandilah dengan air hangat.
·         Turunkan berat badan jika Anda kelebihan berat badan.
·         Berolahraga dapat mengurangi nyeri pada beberapa wanita. Pada beberapa wanita lain, istirahat total lebih membantu.

Solusi obat

·         Obat anti-inflamasi. Perawatan utama nyeri menstruasi adalah kelas obat yang disebut obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID), seperti ibuprofen atau naproxen. Mereka bekerja dengan menghentikan produksi prostaglandin oleh tubuh. Mereka juga dapat mengurangi kehilangan darah dengan mengurangi pembekuan darah di dalam rahim. Ada belasan merek obat berbasis NSAID yang dapat Anda beli secara bebas di apotek dan toko obat. Anda harus berhati-hati dengan obat ini jika memiliki penyakit maag, karena dapat mengiritasi lambung.
·         Pil KB. Berikut adalah solusi lain untuk nyeri menstruasi. Pil KB bekerja dengan mencegah terjadinya ovulasi, sehingga juga mencegah aktivitas prostaglandin yang menyebabkan kram menstruasi. Namun, pil KB bukanlah pilihan semua orang. Jika Anda ingin mendapatkan kehamilan, pil KB tentu saja bukan pilihan Anda.

Okeyy, itulah ulasan singkat mengenai nyeri saat menstruasi. Jadi jangan takut kalau kita merasa nyeri saat menstruasi, karena hal tersebut memang normal, tapi jika merasa ada yang “tidak wajar”, maka alangkah baiknya bila berkonsultasi dengan dokter untuk keterangn lebih lanjut.
Semoga artikel ini bisa membantu, bagi teman-teman yang penasaran tentang nyeri saat menstruasi. Sampai jumpa di artikel selanjutnya…

August 2, 2012
By : Rifka  '11

Rabu, 11 April 2012

Bijak Mengkonsumsi Vitamin C




   
Untuk kalian semua yang senang mengkonsumsi buah jeruk pasti kalian tahu bahwa buah jeruk mengandung banyak sekali vitamin. Namun vitamin yang paling kalian kenal pasti adalah vitamin C. Benar bukan? Namun apakah kalian tahu sebenarnya apa itu vitamin C? Nah kali ini PIO akan berbagi sedikit tentang vitamin yang sangat terkenal ini. Simak terus ya. ;)


Banyak orang menganggap bahwa vitamin C adalah rajanya vitamin, anggapan ini memang tidak keliru sih. Karena manfaat vitamin C yang memang cukup banyak seperti, sebagai antioksidan, untuk meningkatkan sistem imun dan juga yang akhir-akhir ini marak dimanfaatkan dalam bidang kosmetika yaitu untuk kecantikan kulit. Namun dalam mengkonsumsi pun, ada batas-batasnya loh. Selain itu, anggapan bahwa vitamin C dapat menyembuhkan beberapa gejala penyakit, adalah hal yang keliru. Anggapan bahwa vitamin C bisa menyembuhkan gejala beberapa penyakit, termasuk radang tenggorokan adalah anggapan yang keliru. Vitamin C tak berfungsi untuk pengobatan, tetapi pencegahan. 


Bila sedang terkena flu ringan atau radang tenggorokan, biasanya vitamin C dipilih sebagai suplemen untuk mencegah flu semakin berat. Tapi, tahukah kalian kalau ternyata konsumsi vitamin C saat sakit tidak efektif menyembuhkan penyakit seperti flu dan radang tenggorokan. Temuan tersebut dikemukakan dalam penelitian terbaru bahwa tidak semua gejala penyakit ringan seperti influenza, radang tenggorokan atas atau inspeksi saluran pernapasan atas (ispa) dan panas demam bisa disembuhkan hanya dengan mengonsumsi vitamin C saja.


Asupan vitamin C ketika mengalami radang tenggorokan atau ketika menderita influenza serta demam ringan sebenarnya tidak terlalu berpengaruh pada penyakit tersebut. Masyarakat kerap salah kaprah bahwa vitamin C bahkan bisa membuat kebal terhadap bermacam penyakit. Anggapan keliru itu membuat orang mengonsumsi vitamin C secara berlebihan, padahal manfaatnya belum pasti didapat. Contohnya saja anggapan bahwa sakit radang tenggorokan bisa disembuhkan dengan vitamin C hingga saat ini masih menjadi keyakinan di masyarakat kita. Padahal dalam sebuah riset terbaru membuktikan bahwa vitamin C sama sekali tidak memberi pengaruh apa pun pada kasus radang tenggorokan. 


Sebuah review di Cochrane bertajuk “Vitamin C for Preventing and Treating the Common Cold” kembali menegaskan bahwa penggunaan vitamin C tidaklah rasional dalam kondisi sakit tertentu. Penyakit common cold yang dikenal juga dengan radang tenggorokan atau infeksi saluran pernapasan bagian atas ternyata tidak membutuhkan konsumsi vitamin C ketika penyakit itu tengah menyerang. Penyakit ini sering ditandai dengan keluhan meriang, nyeri ketika menelan, sakit kepala, pusing, pilek, batuk, dan tidak enak badan. Keluhan sering disebabkan virus dan umumnya dapat sembuh sendiri. Tidak perlu antibiotika. Cukup istirahat dan tingkatkan daya tahan tubuh dengan makan dan minum yang bergizi. Vitamin C yang dikenal juga dengan sebutan asam askorbat, walaupun tetap kontroversi, mungkin masih sering digunakan sebagai suplementasi untuk mencegah dan mengobati radang tenggorokan. 


Penelitian di Cochrane ini menegaskan bahwa suplementasi vitamin C tidak menunjukkan penurunan kejadian radang tenggorokan, baik pada lamanya sakit maupun tingkat keparahan. Jadi, dosis tinggi untuk pencegahan dan pengobatan yang mungkin masih rutin dianjurkan itu tidak rasional jika diterapkan pada komunitas umum. Tapi, mungkin masih bermanfaat bagi pelaku aktivitas fisik yang berat. Nah, sekarang jangan terlalu banyak menenggak vitamin C ketika terkena radang tenggorokan. Selain tidak banyak memberikan dampak pada tubuh kita ketika sedang sakit, itu juga akan membuat pengeluaran dana menjadi sia-sia.


Tapi, bukan berarti vitamin C tidak dibutuhkan tubuh loh! Karena vitamin C memang memiliki banyak manfaat. Selain bersifat antioksidan yang mampu melawan radikal bebas, vitamin C juga berperan dalam meningkatkan sistem imun. Belakangan ini vitamin C juga menjadi sebuah konsumsi untuk kebutuhan penampilan. Vitamin C sangat dibutuhkan, terutama di kota besar. Belum lagi radikal bebas berupa polusi dari asap kendaraan bermotor dan rokok, serta lain-lainnya, makin bertebaran. Semua itu membuat tubuh rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan. Daya tahan gampang menurun dan serangan radikal bebas membuat sel-sel tubuh mudah rusak dan tak mampu berfungsi dengan baik. Salah satu akibat dari proses kerusakan secara cepat itu adalah penuaan kulit lebih dini. 


Dosis konsumsi vitamin C yang ideal adalah 75 miligram per hari. Perempuan hamil dan ibu menyusui sudah tentu harus mengonsumsi vitamin C lebih besar dari jumlah tadi. Ada juga yang berpendapat cukup mengonsumsi 200 miligram sehari. Bagi orang yang hidup dengan stres atau mereka yang tinggal di kota besar yang penuh polusi, seperti Jakarta, dosis 500 miligram adalah dosis yang cukup baik. Kecukupan vitamin C akan membantu pembentukan kolagen atau senyawa berisi asam amino mirip lem pengikat sel. Zat perekat ini menjadi bagian susunan utama jaringan penghubung seperti kulit, tulang, dan ikatan sendi tulang. Kolagen menjaga kekenyalan dan kelenturan kulit dengan bantuan vitamin C. Juga untuk mendukung berlangsungnya proses yang memungkinkan molekul mencapai bentuk terbaiknya (hydroxylation). Tugas vitamin C pula untuk menjaga kolagen dari risiko cepat rusak dan lemah. Jadi, ketika vitamin C diberikan secara memadai pada sel kulit, ada kesempatan baik untuk mengurangi kerutan dan meningkatkan kehalusan permukaan kulit. Inilah yang dimaksudkan sebagai peremajaan kulit karena kulit memang tampak lebih muda dan cerah. Orang pun menilainya lebih putih. Kebutuhan vitamin C setiap orang berbeda-beda, tergantung pada usia, jenis kelamin, kondisi psikologis, atau banyaknya aktifitas seseorang. Namun, setiap orang bisa mendapatkan asupan vitamin C yang cukup dengan mengonsumsinya dalam jumlah kecil dan sering. Hal ini jauh lebih efektif karena vitamin C akan berada di dalam tubuh secara kontinyu. Tubuh yang memiliki asupan vitamin C yang cukup akan terhindar dari infeksi, gusi berdarah, dan nyeri sendi. 


Nah disarankan juga bila kalian ingin mengonsumsi vitamin C dosis cukup tinggi, untuk berkonsultasi dengan dokter. Sebab, ini menyangkut efek samping yang dapat kalian derita. Sejauh ini vitamin C aman untuk dikonsumsi, tapi sebaiknya jangan diberikan kepada penderita gagal ginjal dan batu ginjal karena akan memacu pembentukan batu ginjal. Vitamin C juga bisa mengganggu penyerapan mineral yang diperlukan tubuh seperti tembaga. Karena vitamin C merupakan senyawa yang mempermudah penyerapan zat besi. Jadi sebaiknya jangan diberikan kepada penderita yang mempunyai kelebihan zat besi. Misalnya pasien hematokromatosis (pewarnaan jaringan dengan pigmen darah). 


Nah sudah lebih jelas kan? Semoga bermanfaat ya. Bagi yang mau bertanya lebih jauh silahkan tinggalkan komentar. Kami akan menjawabnya dengan segera ;)



Oleh : Joula dan Rifka
Source : (Koran SI/Koran SI) – okezone.com

Minggu, 05 Desember 2010

OA dan NSAID

Osteoartritis (OA, dikenal juga sebagai artritis degeneratif, penyakit degeneratif sendi), adalah kondisi di mana sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi.

Pada sendi, suatu jaringan tulang rawan yang biasa disebut dengan nama kartilago biasanya menutup ujung-ujung tulang penyusun sendi. Suatu lapisan cairan yang disebut cairan sinovial terletak di antara tulang-tulang tersebut dan bertindak sebagai bahan pelumas yang mencegah ujung-ujung tulang tersebut bergesekan dan saling mengikis satu sama lain.

Pada kondisi kekurangan cairan sinovial lapisan kartilago yang menutup ujung tulang akan bergesekan satu sama lain. Gesekan tersebut akan membuat lapisan tersebut semakin tipis dan pada akhirnya akan menimbulkan rasa nyeri.

Patofisiologi Kartilago hyaline (jaringan rawan sendi) adalah jaringan elastis yang 95 persen terdiri dari air dan matrik ekstra selular, 5 persen sel kondrosit. Fungsinya sebagai penyangga atau shock breaker, juga sebagai pelumas, sehingga tidak menimbulkan nyeri pada saat pergerakan sendi. Apabila kerusakan jaringan rawan sendi lebih cepat dari kemampuannya untuk memperbaiki diri, maka terjadi penipisan dan kehilangan pelumas sehingga kedua tulang akan bersentuhan. Inilah yang menyebabkan rasa nyeri pada sendi lutut. Setelah terjadi kerusakan tulang rawan, sendi dan tulang ikut berubah. Pada permukaan sendi yang sudah aus terjadilah pengapuran. Yaitu tumbuhnya tulang baru yang merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menjadikan sendi kembali stabil, tapi hal ini justru membuat sendi kaku. Sendi yang sering menjadi sasaran penyakit ini adalah sendi yang sering digunakan sebagai penopang tubuh seperti lutut, tulang belakang, panggul, dan juga pada sendi tangan/kaki. Jika tidak diobati sakit akan bertambah dan tidak bisa berjalan. Selain itu, tulang bisa mengalami perubahan bentuk atau deformity bersifat permanen. Bengkok pada kaki bisa ke dalam maupun keluar. Dampak kelainan ini muncul perlahan 10 tahun kemudian untuk itu perlu waspada.


JENIS-JENIS OA

1. Primer
Penyebab tak diketahui, akibat proses penuaan alami. Dialami setelah usia 45 tahun, tidak diketahui penyebab secara pasti, menyerang perlahan tapi pasti, dan dapat mengenai banyak sendi. Biasanya mengenai sendi lutut dan panggul, bisa juga sendi lain seperti punggung dan jari-jari.

2. Sekunder
Dialami sebelum usia 45 tahun, penyebab trauma (instability) yang menyebabkan luka pada sendi (misalnya patah tulang atau permukaan sendi tidak sejajar), akibat sendi yang longgar dan pembedahan pada sendi. Penyebab lain adalah faktor genetik dan penyakit metabolik.


GEJALA OA

Penyakit ini bisa tanpa gejala (asimptomatik) artinya walaupun menurut hasil X-ray hampir 70 persen manula lebih 70 tahun dideteksi menderita penyakit OA, tetapi hanya setengahnya mengeluh, sedangkan selebihnya normal. Berikut ini tanda tanda serangan OA :
Persendian terasa kaku dan nyeri apabila digerakkan .Pada mulanya hanya terjadi pagi hari, tetapi apabila dibiarkan akan bertambah buruk dan menimbulkan rasa sakit setiap melakukan gerakan tertentu , terutama pada waktu menopang berat badan, namun bisa membaik bila diistirahat kan . Pada beberapa penderita , nyeri sendi dapat timbul setelah istirahat lama,misalnya duduk di kursi atau di jok mobil dalam perjalanan jauh. Terkadang juga dirasakan setelah bangun tidur di pagi hari. Adanya pembengkakan/peradangan pada persendian (Heberden’s dan Bouchard’s nodes). Persendian yang sakit berwarna kemerah-merahan. Kelelahan yang menyertai rasa sakit pada persendian. Kesulitan menggunakan persendian. Bunyi pada setiap persendian(crepitus). Gejala ini tidak menimbulkan rasa nyeri, hanya rasa tidak nyaman pada setiap persendian (umumnya lutut)
Perubahan bentuk tulang.Ini akibat jaringan tulang rawan yang semakin rusak, tulang mulai berubah bentuk dan meradang , menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.


FAKTOR RESIKO

Usia diatas 50 tahun.
wanita
Kegemukan
Riwayat immobilisasi
Riwayat trauma atau radang di persendian sebelumnya.
Adanya stress pada sendi yang berkepanjangan,misalnya pada olahragawan.
Adanya kristal pada cairan sendi atau tulang .
Densitas tulang yang tinggi
Neurophaty perifer
faktor lainnya : ras, keturunan dan metabolik.


PENCEGAHAN OA

Dengan mengeleminir faktor predisposisi di atas. Sebagai tips, lakukan hal-hal berikut untuk menghindari sedini mungkin anda terserang OA atau membuat OA anda tidak kambuh yaitu dengan;
Menjaga berat badan
Olah raga yang tidak banyak menggunakan persendian
Aktifitas Olah raga sesuai kebutuhan
Menghindari perlukaan pada persendian.
Minum suplemen sendi
Mengkonsumsi makanan sehat
Memilih alas kaki yang tepat dan nyaman
Lakukan relaksasi dengan berbagai tehnik
Hindari gerakan yang meregangkan sendi jari tangan.
Jika ada deformitas pada lutut, misalnya kaki berbentuk O, jangan dibiarkan. hal tersebut akan menyebabkan tekanan yang tidak merata pada semua permukaan tulang.


DIAGNOSIS OA

Curigai pada manula dengan gejala OA dan lakukan pemeriksaan Xray foto pada sendi yang dikeluhkan, khusus untuk lutut pemeriksaan dilakukan posisi berdiri dan kedua lutut diperiksa untuk pembanding.
Pada foto xray penderita OA kita bisa jumpai adanya osteofit pada pinggir sendi, penyempitan rongga sendi,peningkatan densitas tulang subkhondral, kista pada tulang subkhondral, cairan sendi. Pada pemeriksaan laboratorium penderita OA normal, tapi diperlukan untuk membedakan dengan penyakit lain.
Pada kasus OA dengan cairan sendi berlebihan diperlukan pemeriksaan analisis cairan sendi untuk membedakan dengan OA yang terinfeksi, karena pada OA analisis cairan sendi jernih, kental, sel darah putih < 2000/mL


PENGOBATAN OSTEOARTHRITIS

Edukasi pasien
Obat nyeri
Excercise, menghilangkan kekakuan dan lingkup sendi lebih luas.
Suplemen sendi : Glukosamin dan Chondroitin , masing-masing memiliki fungsi yaitu : Chondroitin sulfat berguna untuk merangang pertumbuhan tulang rawan dan menghambat perusakan tulang rawan.Glukosamin adalah pembentukan proteoglycan, bekerja dengan merangsang pembentukan tulang rawan, serta menghambat perusakan tulang rawan.
Pemberian injeksi hyaluronic acid
Artroskopi debridement, suatu prosedur tindakan untuk diagnosis dan terapi pada kelainan sendi dengan menggunakan kamera, dengan alat ini dokter melakukan pembersihan dan pencucian sendi, selain itu dokter dapat melihat kelainan pada sendi yang lain dan langsung dapat memeperbaikinya.

Penggantian sendi (THR), prosedur ini dilakukan pada kasus stadium lanjut (3dan 4). Setelah operasi pasien dapat berjalan kembali dengan tanpa rasa nyeri.
Hasil uji klinik jangka panjang, Adenomatous Polyp Prevention on Vioxx (APPROVe), yang berujung pada penarikan rofecoxib (Vioxx) 30 September 2004 silam, membuat berbagai negara di seluruh dunia mengkaji ulang rekomendasi atau konsensus dalam pengobatan arthritis, dan salah satu di antaranya adalah Kanada.

Setelah studi tersebut dipublikasikan, tim penyusun konsensus dari negara ini segera me-review semua artikel atau jurnal tentang obat anti inflamasi non steroid (OAINS/NSAID = Non-Steroid Anti Inflamatory Drug) atau coxib mulai dari Januari 2000 hingga Desember 2004. Selanjutnya hasil review ini diperdebatkan dan diformulasikan dalam bentuk konsensus pada Third Canadian Consensus Conference Group yang diselenggarakan 21-23 Januari 2005. Konsensus ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal J Rheumatol 2006;33:140-57.

Pada pertemuan tersebut disepakati, data yang ada saat itu tentang risiko kardiovaskular akibat penggunaan OAINS, belum cukup jelas menunjukkan apakah risiko kardiovaskular dimiliki dan merupakan ciri khas dari satu kelas obat (coxib) atau hanya dijumpai pada individu obat tertentu saja. Tapi tak lama pasca pertemuan ini, muncul publikasi yang meluruskan hal tersebut. Publikasi yang dipresentasikan pada joint meeting of U.S Arthritis Advisory Committee and Drug Safety and Risk Management Advisory Committee dari FDA, 16-18 Februari 2005, dan pertemuan Health Canada’s Expert Advisory Panel on the Safety of Cox-2 Selective NSAID, 9-10 Juni 2005 ini mengklarifikasi bahwa hampir semua coxib yang ada memang berisiko terhadap kardiovaskular, namun dengan tingkat berbeda.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, akhirnya tim konsensus mengeluarkan beberapa rekomendasi untuk pengobatan arthritis. Coxib digunakan untuk mengatasi gejala arthritis karena sama efektif dengan OAINS nonselektif, namun lebih protektif terhadap gastrointestinal (GI). Pasien yang akan diberi coxib harus diberi informasi tentang pilihan terapi, termasuk perlunya menyeimbangkan antara risiko kardiovaskular dan manfaat proteksi gastrointestinal (GI) dari coxib.
Konsensus juga merekomendasikan peresepan proton pump inhibitor (PPI) jika OAINS nonselektif diberikan pada pasien dengan risiko tinggi mengalami gangguan GI. Meskipun datanya masih terbatas, menurut konsensus ini, pemberian coxib mungkin lebih cost-effective untuk pasien dengan risiko GI tinggi ketimbang kombinasi OAINS nonselektif plus PPI.

Pasien dengan risiko gangguan ginjal yang tinggi, untuk memulai dan tak lama setelah terapi harus dikontrol nilai klirens kreatinin dan tekanan darahnya agar berada pada nilai dasar (baseline). Sedangkan untuk lansia, sebisa mungkin diberi terapi nonfarmakologi. Tapi jika terpaksa, peresepan OAINS/coxib harus dilakukan dibawah pengawasan ketat.

Untuk menambah manfaat terapi, jika memungkinkan di samping pemberian oral, pasien juga bisa menggunakan OAINS topikal. Studi membuktikan bahwa OAINS topikal aman dan efektif mengobati osteoarthritis (OA) lutut. Guideline dari Amerika (American College of Rheumatology) dan Eropa (European League Against Rheumatism ) terkini merekomendasikan penggunaan OAINS topikal sebagai terapi alternatif efektif untuk OA.

Terakhir konsensus menegaskan bahwa panduan ini sifatnya hanyalah sebagai pelengkap dan pembantu. Keputusan terapi tetaplah berada di tangan internis. Untuk itu diharapkan internis mempertimbangkan segala aspek, terutama risk and benefit terapi. Khusus untuk rofecoxib, karena telah terbukti meningkatkan risiko kardiovaskular, konsensus secara tegas melarang pemberian obat ini.

Berikut pilihan terapi arthritis dengan OAINS beserta pertimbangannya :

Salisilat

Kelompok obat ini merupakan cikal bakal berkembangnya OAINS. Salisilat menimbulkan efek analgesia, anti inflamasi, dan anti piretik dengan menekan produksi prostaglandin dan tromboksan dengan menghambat siklooksigenase (Cox-1 dan Cox-2). Oleh karena itu salisilat dan turunannya disebut juga dengan OAINS konvensional, karena tak selektif terhadap salah satu tipe siklooksigenase.
OAINS, asam asetil salisilat, lebih dikenal sebagai antiplatelet pada dosis rendah ketimbang sebagai pengobatan gejala arthritis. Namun turunannya, yaitu diflunisal biasa digunakan untuk meredakan gejala arthritis. Efek analgesia diflunisal muncul 1 jam setelah pemberian dan efek maksimal dicapai setelah 2-3 jam. Namun, kelompok salisilat ini berbahaya terhadap saluran cerna.

Arylalkanoic Acid

Kelompok ini yang kerap dikenal dalam pengobatan arthritis di antaranya adalah indometasin dan diklofenak. Keduanya diindikasikan mengatasi gejala arthritis dan gout ( ankylosing spondylitis, rheumatoid arthritis, arthritic gout, osteoarthritis, juvenile arthritis, dan pseudogout).
Indometasin merupakan turunan indol metilat dengan efek lebih kuat dibanding aspirin. Kekuatan ini tak lain berasal dari 2 mekanisme tambahan di samping menghambat pembentukan prostaglandin. Modus kerja tambahan ini mencakup inhibisi motilitas leukosit polimorfonuklear, seperti halnya kolkisin dan melepaskan fosforilasi oksidatif pada mitokondria kartilago, seperti layaknya salisilat. Akhirnya kedua mekanisme ini memperkuat efek analgesia dan antiinflamasi indometasin.
Meski cukup superior, namun sebagai OAINS nonselektif, indometasin tak lepas dari efek samping yang cukup serius. Di antaranya adalah komplikasi pada saluran cerna dan gangguan mental ringan yang reversibel. Oleh karena itu, obat ini tidak boleh diberikan untuk mengatasi nyeri ringan dan sederhana. Indometasin sebaiknya diberikan sesuai indikasi klinisnya.
Mengingat efek samping tersebut, maka indometasin tidak boleh diberikan untuk pasien dengan tukak GI aktif. Penggunaan indometasin harus dibatasi dan dilakukan secara hati-hati pada pasien dengan kolitis bertukak, epilepsi, parkinson, dan gangguan mental. Belum ada data tentang efektivitas dan keamanan indometasin pada anak, jadi sebaiknya indometasin tidak diberikan pada anak usia 14 tahun ke bawah. Indometasin juga tidak boleh diberikan pada ibu hamil karena bisa dengan mudah melewati plasenta.
Serupa dengan indometasin, diklofenak tampaknya juga merupakan OAINS yang superior dan unik. Selain menghambat siklooksigenase, ada evidence bahwa diklofenak juga mengintervensi jalur lipooksigenase sehingga mengurangi pembentukan leukotrien. Leukotrien merupakan pro-inflammatory autacoid. Tak hanya itu, diklofenak disinyalir juga menghambat fosfolipase A2. Mekanisme tambahan ini diduga menjadi sumber kekuatan diklofenak. Jadi wajar saja bila obat ini juga dikenal sebagai OAINS yang superior.
Kerja diklofenak yang menginhibisi siklooksigenase, ternyata juga menurunkan prostaglandin di epitel lambung. Akibatnya epitel jadi lebih sensitif mengalami korosif oleh asam lambung. Ini pulalah yang menjadi efek samping utama diklofenak. Tapi bagusnya, diklofenak memiliki kecenderungan (sekitar 10 kali) menghambat COX-2 dibandingkan dengan COX-1. Itu sebabnya keluhan GI akibat penggunaan diklofenak lebih rendah ketimbang indometasin dan aspirin. Alhasil diklofenak dikenal sebagai OAINS yang bisa ditoleransi dengan baik. Dari 20% pasien yang mengalami efek samping pada penggunaan diklofenak jangka panjang, hanya 2% yang akhirnya menghentikan pengobatan.

2-Arylpropionic acid (profen)

Profen merupakan salah satu kelompok OAINS yang sangat banyak digunakan. Ibuprofen dan ketoprofen, misalnya, digunakan secara luas hampir disebagian besar negara di dunia. Ibuprofen dosis rendah (200 mg dan terkadang 400 mg) dan ketoprofen 12,5 mg dapat diperoleh tanpa resep atau over the counter (OTC) untuk mengatasi sakit kepala, nyeri haid, demam, dan nyeri ringan lainnya. Dosis lebih tinggi digunakan untuk mengatasi nyeri sedang seperti gejala arthritis.
Keputusan untuk melempar ibuprofen dan ketoprofen ke pasar OTC tak lain karena obat ini relatif aman pada dosis rendah. Di antara semua OAINS nonselektif, ibuprofen menunjukkan efek samping pada GI paling rendah. Tapi untuk dosis di atas preparat OTC, penggunaannya harus tetap diawasi atau diresepkan (maksimum 3200 mg per hari). Pasalnya, pemberian ibuprofen dosis tinggi dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko infark miokard.
Berbeda dengan kedua anggota profen yang telah disebut di atas, penggunaa naproxen dan ketorolak malah harus diawasi secara ketat. Seperti OAINS lain, kedua obat ini bisa menimbulkan gangguan pada GI. Bahkan ketorolak bisa menyebabkan retensi cairan dan edema. Karenanya, penggunaan ketorolak hanya diperbolehkan untuk jangka waktu pendek (maksimal tiga hari). Ketorolak tak diindikasikan untuk mengatasi gejala arthritis.
Sedangkan naproxen biasa diindikasikan untuk mengatasi gejala arthritis. Agar bisa memberikan efek memadai, naproxen membutuhkan dosis yang lebih tinggi ketimbang OAINS lain (dosis minimal 200 mg), dengan loading dose 550 mg. Meski demikian, naproxen terikat baik dengan albumin sehingga waktu paruhnya lebih panjang, yakni 12 jam per dosis.

Coxib

Awalnya, COX-2 selective inhibitors atau coxib dikembangkan untuk menghindari efek samping pada saluran cerna yang umum dijumpai pada penggunaan OAINS nonselektif. Tapi seperti yang telah dijelaskan di atas, ternyata beberapa coxib ditemukan berisiko terhadap kardiovaskular. Meski demikian, beberapa konsensus tetap menggunakan obat golongan ini dengan mempertimbangkan risk and benefit-nya.
Potensi coxib dibedakan berdasarkan selektifitasnya. Coxib yang lebih baru (valdecoxib, etoricoxib, lumiracoxib) menghambat COX-2 lebih selektif dari celecoxib atau rofecoxib. Bagaimana relevansi klinis dari peningkatan selektivitas ini masih belum jelas.
Celecoxib dan valdecoxib sama-sama memiliki suatu ikatan sulfonamida, yakni suatu metabolit aktif dari prodrug parecoxib. Uji klinis memperlihatkan bahwa kedua obat ini efektif mengatasi OA dan RA. Pada uji juga terlihat, insiden ulser gastrik dan duodenum secara endoskopi pada pasien yang menggunakan obat ini lebih rendah secara bermakna ketimbang pasien yang menerima OAINS nonselektif. Namun valdecoxib tak seberuntung celecoxib. Nasibnya kandas ditengah jalan. Pada 2005 silam, valdecoxib ditarik secara sukarela dari beberapa market utama terkait dengan efek reaksi kulit yang serius. Menurut FDA, setidaknya 7 pasien dengan atau tanpa riwayat alergi sulfonamide meninggal.
Sementara rofecoxib dan etoricoxib sama-sama memiliki suatu gugus sulfon. Tapi rofecoxib mesti ditarik dari peredaran lantaran terkait dengan risiko kardiovaskularnya. Etoricoxib, generasi lebih baru, kini tengah menjalani uji klinis fase III/IV. Sejak penarikan rofecoxib, FDA lebih hati-hati dan meminta data tambahan tentang efikasi dan keamanan etoricoxib sebelum di-approval.
Menurut hasil uji yang telah berjalan, etoricoxib memiliki efikasi yang sama dengan diklofenak 50 mg tiga kali sehari atau naproksen 50 mg dua kali sehari untuk OA atau RA, dan sebanding atau unggul terhadap naproksen 1000 mg per hari untuk pasien RA. Etoricoxib memiliki tingkat lesi lambung dan duodenum yang dilihat dengan endoskopik lebih rendah ketimbang ibuprofen, dan memiliki risiko yang lebih kecil mengalami gangguan saluran cerna serius (perforasi, ulser, dan pendarahan (PUB) daripada OAINS nonselektif. Etoricoxib relatif memliki waktu paruh yang panjang, sekitar 22 jam.
Di antara semua coxib yang telah dikembangkan, lumiracoxib tampaknya paling selektif untuk inhibisi COX-2 (rasio COX-2/COX-1 500). Secara struktural, lumiracoxib merupakan analog lemah dari asam fenilasetat dan berefek sama dengan diklofenak.
Lumiracoxib memiliki yang paruh yang sangat singkat (3–6 jam). Uji klinis memperlihatkan lumiracoxib 100–400 mg per hari efektif pada pasien OA dan RA, dengan risiko komplikasi saluran cerna yang lebih rendah secara signifikan ketimbang OAINS nonselektif. Namun pada November 2007, lumiracoxib (Prexige, Novartis) ditarik oleh regulator MHRA karena mengakibatkan kerusakan hati.